“RATU NGEBOR” merupakan gerakan Satu Rumah Satu Biopori untuk Lawan Darurat Sampah Organik di Salatiga.

Gerakan ini menyasar persoalan sampah organik yang sebagian besar berasal dari rumah tangga. Melalui lubang biopori, sampah organik tidak hanya dikurangi dari sumbernya, tetapi juga diolah agar kembali memberi manfaat bagi lingkungan.

Peluncuran diawali dengan flashmob dan senam bersama “Ratu Ngebor” yang diinisiasi TP PKK bersama OPD. Kegiatan tersebut diikuti Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG, Ketua TP PKK Retno Robby Hernawan, kepala OPD, camat, lurah, serta sejumlah tamu undangan.

Retno mengatakan, persoalan sampah organik tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Rumah tangga sebagai salah satu sumber utama sampah organik justru memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kontributor terbesar sampah organik ada dari rumah tangga. Karena itu, agen perubahan untuk semua ini adalah kita. Kalau dikelola dengan baik, sampah organik justru bisa kembali memberi manfaat bagi ekosistem, seperti menjadi pupuk kompos dan berbagai manfaat lainnya,” ujar Retno. Guna mendukung kegiatan tersebut, Baznas juga berperan menyerahkan bantuan senilai Rp. 5.000.000 untuk percepatan biopori sejumlah 250 titik. Menurutnya, Ratu Ngebor bukan semata-mata gerakan membuat sebanyak-banyaknya lubang biopori. Lebih penting dari itu adalah membangun kepedulian dan kebiasaan masyarakat untuk mengelola sampah dari rumah.

ementara Wali Kota, menyambut baik gerakan tersebut. Ia berharap Ratu Ngebor tidak berhenti sebagai kegiatan peluncuran, tetapi menjadi gerakan yang terus dilakukan dan berkembang di masyarakat. “Ini gerakan yang baik dan harus berkelanjutan. Saya berharap DLH dapat terus mengawal, mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga pendampingan kepada masyarakat, sehingga biopori benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan kita dalam mengelola sampah,” kata Robby. Menariknya, kegiatan tersebut juga menghadirkan sosok Mr. Yun, warga Korea yang dikenal memiliki kepedulian terhadap persoalan sampah di lingkungan sekitar. Dalam kegiatan tersebut, Robby menyoroti aksi Mr. Yun yang memunguti sisa sampah di lapangan dan memilahnya secara mandiri.

“Saya kagum dengan Mr. Yun yang begitu peduli terhadap lingkungan. Ia bahkan memunguti sampah yang ada di lapangan dan memilahnya sendiri. Alangkah bahagianya kalau seluruh warga Salatiga memiliki kepedulian yang sama dan saling mengingatkan untuk kebaikan,” ujar Robby. Kepedulian tersebut bahkan dituangkan Mr. Yun dalam sebuah karya ilmiah berupa buku berjudul “Mr. Yun Tukang Sampah Lapangan Kembang Arum” yang kemudian diserahkan kepada Robby.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan Ketua TP PKK bersama rombongan ke sejumlah rumah warga. Di lokasi tersebut, rombongan melihat langsung berbagai praktik pengelolaan lingkungan, mulai dari Taman Baca Masyarakat “Teratai”, pengolahan sampah organik dengan berbagai metode, hingga peternakan yang memanfaatkan sampah organik sebagai bagian dari pakan ternak ikan.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Dengan kemauan, kreativitas, dan kepedulian, sampah dari rumah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat. Melalui Ratu Ngebor, Pemkot Salatiga ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat: sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dikelola sejak dari rumah. Dari satu rumah, bergerak satu lingkungan, hingga menjadi gerakan bersama seluruh Kota Salatiga.

Categories:

Tags:

Comments are closed